Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Ibadah Qurban

Kata “qurban” secara etimologi berakar dari kata “qaruba” yang berarti “dekat”. Dalam Al-Qur’an, kata “qaruba” dengan berbagai derivasinya terulang sebanyak 99 (sembilan puluh sembilan) kali.[1] Kata-kata tersebut antara lain berbicara tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan arti “dekat”.
Sedangkan kata “qurban” itu sendiri, di dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 3 (tiga) kali[2], dimana kata “qurban” dalam dua ayat menjelaskan tentang beribadah kepada Allah SWT. dengan memberikan atau mempersembahkan suatu barang yang berharga (QS. 3: 183, 5: 27) dan satunya lagi menjelaskan “qurban” dalam arti  mendekatkan diri dengan sedekat-dekatnya (QS. 46: 28).

Dalam Al-Qur’an, qurban digunakan untuk membicarakan tentang qurban sebagai bukti kerasulan (QS. 3: 183), qurban yang digunakan untuk memutuskan suatu perkara (QS. 5: 27) dan ada yang digunakan dalam arti mendekatkan diri (ibadah) dengan sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. dengan melalui berbagai usaha atau cara.

Usaha-usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. ini, dilakukan dengan cara melaksanakan perintah-Nya untuk menyembelih anak (QS. 37: 102-107), dengan menyembelih binatang ternak yang dagingnya dibagikan kepada para fakir miskin (QS. 22: 34, 108: 2), dan bahkan ada yang mendekatkan diri dengan cara menyembah Tuhan selain Allah SWT. (QS. 46: 28).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang kata “qurban” sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan memberikan atau mempersembahkan suatu barang yang berharga, diantaranya menggunakan kata “qurban” itu sendiri (QS. 3: 183, 5: 27), menggunakan kata “adbahuka” atau kata “dibdun” (QS. 37: 102; 107), menggunakan kata “mansakan” atau ibadah nusuk dengan menyembelih binatang ternak (bahimah al-an’am) (QS. 22: 34), dan ada juga yang menggunakan kata “inhar” (QS. 108: 2).[3]

Adapun ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 183:

 Artinya: “(Yaitu) orang (Yahudi) yang mengatakan: “sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami qurban yang dimakan api.” (QS. Ali Imran: 183)[4]

Ayat ini menjelaskan tentang berita kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad saw. Mereka datang kepada Nabi Muhammad saw. bahwa mereka akan beriman apabila beliau dapat mendatangkan qurban yang dimakan api.

Dalam ayat ini, Allah SWT. menjelaskan perkataan orang-orang Yahudi tersebut dan Allah membantah perkataan mereka yang bohong itu. Kemudian, Allah SWT. menghibur Rasul-Nya dan menjelaskan kepadanya bahwa ketidakpercayaan orang-orang Yahudi kepadanya bukanlah sesuatu hal yang baru bagi mereka. Bahkan, sebelumnya mereka melakukan kebohongan yang sama terhadap Nabi-nabi terdahulu bahkan ada yang dibunuhnya (misalnya perbuatan yang dilakukan terhadap Nabi Zakaria as. dan putranya, Nabi Yahya, as.
2.         Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27:

Artinya: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku Pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)[5]

Ayat  di atas merupakan ayat tentang ibadah qurban yang pertama kali dalam sejarah kemanusiaan. Ayat ini menjelaskan tentang qurban dua anak Adam, yakni habil dan Qabil. Habil mempersembahkan hewan yang paling baik dengan hati yang tulus. Sedangkan Qabil berqurban hanya untuk mengalahkan saudaranya yang kepadanya ia iri hati. Tuhan menerima qurban yang ikhlas. Qabil bertambah iri dan memutuskan untuk membunuh Habil.[6]

Mereka berdua telah berqurban dengan barang (hewan) yang sejenis dan cara yang sama. Akan tetapi ternyata tidak setiap yang dinamakan “qurban" diterima Allah SWT. Karena nilai suatu pengurbanan tidaklah ditentukan atau diukur dengan harganya, bentuk barangnya, atau jumlahnya. Tetapi pengurbanan dinilai berdasarkan niat, keikhlasan, kelayakan yang berimbang dengan kemampuannya, dan semata-mata melaksanakan taqwa kepada Allah SWT.[7]

3.         Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 107:

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Shaffat: 107)[8]

4.         Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 34:

Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut asma Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)[9]

Kedua ayat di atas menjelaskan bagaimana kita manusia Muslim dapat mempertauhidkan kembali antara ajaran Tauhid yang bersifat trasendental-fungsional-imperatif dan dimensi kepedulian dan pemihakan sosial yang kongret dari para penganut agama Islam.[10]

Dalam prespektif sejarah, Nabi Ibrahim as. mengajarkan perintah berqurban dalam hubungannya dengan ajaran tauhid yang diteruskan oleh kepada Nabi Muhammad saw. Nabi Ibrahim as. memanggil umat manusia untuk mengunjungi Baitullah (ibadah haji, pen.) yang dilanjutkan dengan menyembelih qurban. Ajaran Nabi Ibrahim as. ini kemudian dikukuhkan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai ibadah yang mengandung makna yang mendalam, yakni mengajak manusia kepada ajaran tauhid (monotheist) yang berdimensi keberpihakan sosial.[11]

Salah satu manifestasi ajaran tauhid terlihat pada puncak ibadah haji atau puncak ibadah Idul Adh-ha yang pada hakikatnya tidak terlepas dari semangat pemupukan jiwa solidaritas sosial dan kesediaan berqurban untuk kepentingan sosial.[12] Pada puncak ibadah haji ketika Jemaah haji di Mina hari pertama inilah, seluruh umat Islam  sedunia disunahkan untuk melakukan shalat Idul Adh-ha dan menyembelih hewan qurban bagi mereka yang mampu.

5.         Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2.
Artinya: “Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)[13]

Ayat ini merupakan fokus pembahasan dalam uraian selanjutnya, karena dalam ayat ini mengandung pengertian dan maksud seperti yang termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur’an dalam ayat-ayat terdahulu. Selain penyembelihan qurban dalam konteks  Idul Adh-ha (udh-hiyah), ibadah qurban dalam surat Al-Kautsar ini juga oleh kalangan ahli Tafsir[14] dipahami sebagai ‘aqiqah (penyembelihan qurban yang dilaksanakan dalam rangka mensyukuri kelahiran anak).

Ibadah qurban dalam ayat ini mempunyai pengertian yang sangat luas, yakni menyatunya dimensi tauhid yang bersifat trasendental fungsional dan dimensi kepedulian sosial yang bersifat historis empiris dalam satu keutuhan pandangan hidup mencerminkan sikap hidup keberagamaan Islam yang autentik dan tulus.[15] Dua dimensi keberagamaan manusia Muslim yang tidak dapat dipisahkan tersebut  terlihat dalam surat Al-Kautsar yang “nota bene”nya mempunyai hubungan munasabah dengan surat Al-Maun.

[1] Lihat Muhammad Fuad Abdul Baqi’, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz Al-Qur’an al-Karim (Bairut: Dar al-Fikr, t.th.), halaman 540-542.
[2] Ibid., halaman 542.
[3] Sukmadjaya Asyarie & Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an (Bandung: Pustaka, 1984), halaman 108.
[4] Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Op. Cit., halaman 108.
[5] Ibid., halaman 163.
[6] Jalaluddin Rakhmat, Op. Cit., halaman 281.
[7] E. Abdurrahman, Op. Cit., halaman 2.
[8] Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Op. Cit., halaman 725.
[9] Ibid., halaman 517.
[10] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), halaman 276.
[11] Untuk lebih lengkapnya, baca Ibid., halaman 270-272.
[12] Ibid., halaman 275.
[13] Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Op. Cit., halaman 1110.
14] Pembahasan pendapat para Mufasir tentang ibadah qurban dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar  ini akan dibahas pada bab selanjutnya.
[15] M. Amin Abdullah, Op. Cit., halaman 272.